Don Hasman, Sang Maestro

Sang Maestro‘Teman-teman, nanti malam kita kedatangan tamu spesial, om Don Hasman’ .. sedikit tidak percaya saat membaca pesan whatsapp yang dikirimkan salah satu pengurus Sekolah Motret (SEMOT) Salatiga.
Don Hasman, Sang Maestro yang masuk dalam 100 Famous Photographer In The World bersedia sharing pengalaman di Sekolah Motret yang belum lama kami adakan, bahkan hingga 2 hari berturut-turut !
Meskipun bukan jadwal kelas seperti biasa, kami bersemangat membuat kelas dadakan😀 Belum tentu besok2 om Don -begitu beliau biasa dipanggil- bisa kembali ke Salatiga , mengingat jadwalnya yang super padat.

Bagi generasi muda fotografi, sosok Om Don mungkin tidak setenar Darwis Triadi ataupun Jerry Aurum. Bahkan saya sendiri juga belum lama mengenal cerita tentang beliau.
Don Hasman lahir di Jakarta, 7 Oktober 1940. Di usia yang memasuki 74 tahun, jangan disangka beliau lemah, justru semangatnya bahkan mungkin mengalahkan yang muda😀
Memotret sejak usia 11 tahun, Om Don telah melakukan penjelajahan sejak tahun 1960-an. Begitu banyak pengalaman dan ilmu yang dimiliki beliau. Dan beliau tidak segan untuk berbagi pengalaman kepada mereka yang tertarik.

Dua materi yang dijadwalkan untuk beliau, diisi dengan cerita dan ilmu yang dijelaskan dengan penuh semangat😀
Di kelas Travel Photography, beliau menceritakan tentang pengalamannya saat menjelajah banyak negara, mendaki gunung, ekspedisi dan penelitian serta masih banyak lagi. Tak kurang 40 gunung berapi dan 10 rangkaian pegunungan di Indonesia telah beliau daki, belum lagi gunung di luar negeri. Etna (Italia), Mt. Blanc (Perancis), Everest (Nepal), Kilimanjaro (Tanzania) dan masih banyak lagi.
Menurut beliau, Travel Photography adalah merekam proses perjalanan dari awal hingga akhir, sehingga sangatlah penting kita mengambil momen yang terjadi di perjalanan sehingga menghasilkan cerita dan konsep foto yang menarik.
Selain itu juga diperlukan mental yang kuat dan tekad untuk maju, dibuktikan ketika beliau berjalan dari Perancis ke Spanyol sejauh 1.000 km dalam waktu 35 hari saat menyusuri jalur ziarah Santiago de Compostela s.d Finisterre pada tahun 2007, padahal saat itu beliau sudah berusia 67 tahun. Luar biasa😀

 

Saat sharing di kelas Etno Photography, Om Don bercerita tentang masyarakat Baduy. Seperti kita tahu, sampai saat ini masyarakat Baduy adalah suku yang masih sangat memegang teguh adat, khususnya Baduy Dalam. Tidak sembarang orang bisa memasuki perkampungan suku Baduy Dalam. Om Don sampai membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk bisa masuk dan mempelajari karakteristik mereka, dan saat ini Om Don sudah dianggap seperti saudara mereka sendiri. Dari hasil pengamatan dan pengabdiannya terhadap masyarakat Baduy, Om Don telah menerbitkan buku yang di beri judul Urang Kanekes:  Baduy People , khusus membahas tentang masyarakat Baduy.

Om Don Hasman adalah sosok fotografer yang ramah dan sangat humble. Beliau tidak ada masalah ketika harus duduk lesehan waktu mengisi di kelas kami, padahal waktu itu beliau sedang sakit flu. Tak masalah pula saat kami ajak makan malam ‘Sama saja di warung kaki lima atau restoran, yang penting perut terisi’, begitu Om Don berkata. Bahkan saat pulang kembali ke Jakarta, lebih memilih naik bis dibanding kereta ataupun pesawat.
Saat sharing pengalaman, beliau sangat welcome dan memberikan apresiasi setiap pertanyaan yang diajukan. Hingga saat kelas usai, Om Don masih bersedia berdiskusi dengan peserta, dan tentu juga berfoto-foto😀

Satu quote menarik dari  Om Don Hasman adalah fotografi tidak sekedar melukis dengan cahaya, tapi juga ada proses saat pengambilan gambar yang akan menghasilkan foto yang mampu memberikan inspirasi bagi yang melihatnya🙂

Terimakasih kami ucapkan kepada Om Don Hasman yang bersedia meluangkan waktunya sharing pengalaman dengan kami di Salatiga, semoga selalu diberi sehat dan selalu memberi inspirasi bagi kami, generasi muda fotografi🙂

Copyright photo by Yuhan Hardianto (SEMOT)

Serius menyimak sharing Om Don

Diskusi usai kelas

Diskusi usai kelas

Foto Keluarga

Tak ada kamera, tab pun jadi :D

Tak ada kamera, tab pun jadi😀

Akrab

Akrab

Prewedding

 

Image

Look Our Future

Behind The Story :

“Tha, ada waktu luang kapan?”

“Emang kenapa?”

“Tolong fotoin prewedku yak”

Begitulah awal mulanya ketika seorang teman minta tolong buat motret prewednya. Awalnya ragu, mampu nggak ya,, tetapi akirnya berbekal keyakinan dan kenekatan, di terima juga itu tawaran. Hehe
Foto diambil sekitar penghujung tahun 2013 lalu -rada telat posting jg sih- di wana wisata Penggaron, Ungaran, Jawa Tengah.

Selamat buat Aang & Mita yang sudah melangsungkan pernikahan akhir Desember 2013, semoga menjadi keluarga sakinah, mawwadah & warrahmah. Terimakasih juga atas kepercayaan yang diberikan😀

 

Image

L O V E was made for me and you

Image

Levitasi mode on😀

Image

Rings of Love

ImageImage

Image

Just Two of Us

 

Candi Ceto

Bermula dari niatan rombongan hore2 (aku, mas Anggoro, mas Gatot, mbak Ifa, Heru) untuk ‘menyasarkan diri’😀 , akirnya kami sepakat untuk nyasar ke Karanganyar, tepatnya ke Candi Ceto .

Candi Ceto terletak di lereng gunung Lawu, tepatnya di Dusun Ceto, Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Dari kota Karanganyar, ambil jalan yang menuju arah obyek wisata Tawangmangu, di sepanjang jalan banyak papan penunjuk arah menuju ke Candi Ceto.
Jalan yang dilalui sudah beraspal, tapi sedikit rusak serta banyak tanjakan curam dan tikungan tajam -berasa offroad- jadi siapkan diri dalam perjalanan yang menantang nyali . Hihihi

Karena dalam perjalanan menuju candi Ceto melewati kebun teh Kemuning yang sayang sekali jika terlewatkan untuk di foto😛 maka kami sampai di lokasi candi sudah sore, hujan gerimis dan kabut mulai turun menyelimuti lokasi. Setelah membayar tiket masuk obyek sebesar Rp. 3.000/orang, kami mulai mendaki tangga melewati gapura utama dan sampai di area yang cukup lapang.

Sedikit bercerita sejarah, Candi Ceto, dalam bahasa Jawa yang artinya Jelas, adalah candi Hindu yang diduga dibangun di era akhir Majapahit di bawah pemerintahan Raja Brawijaya V. Struktur candi ini adalah punden berundak, memanjang dari Barat (paling rendah) ke Timur. Awal ditemukan candi ini terdiri dari 14 tingkatan, tapi sekarang hanya tinggal 13 tingkatan dimana 9 di antaranya telah mengalami pemugaran. Pemugaran pada akhir 1970-an yang dilakukan sepihak, mengubah banyak struktur asli candi, meskipun konsep punden berundak tetap dipertahankan. Pemugaran ini banyak dikritik oleh para pakar pakar arkeologi, mengingat bahwa pemugaran situs purbakala tidak dapat dilakukan tanpa studi yang mendalam.
Di candi Ceto ini banyak ditemukan simbol-simbol, misalnya surya Majapahit yang diduga sebagai lambang Majapahit, phallus (alat kelamin laki-laki) yang diartikan simbol penciptaan manusia, dan relief kura-kura raksasa yang berarti simbol penciptaan alam semesta.

Setelah mendaki beberapa tingkatan, sampailah kami pada tingkat yang teratas (tingkat 9). Di tingkat ini terdapat sebuah bangunan batu berbentuk kubus. Bangunan ini digunakan sebagai tempat pemanjatan doa, bahkan hingga sampai sekarang masih digunakan sebagai tempat berdoa umat Hindu yang tinggal di sekitar kompleks candi. Karena tempat suci, maka pengunjung biasa tidak di perbolehkan memasuki bangunan tersebut.
Kabut yang menyelimuti puncak bangunan ditambah dengan gerimis serta wangi sesajen dan dupa menambah nuansa mistis di areal ini.

Perjalanan turun kami di temani dengan hujan yang menderas yang memaksa kami berteduh di joglo di areal candi. Di situ kami sempat mengobrol turis dari Italia -meskipun bahasa Inggris kami juga pas2an :P- yang mengungkapkan kekagumannya terhadap candi Ceto. Bahkan dia juga sudah mengunjungi candi Sukuh, yang terletak tak jauh dari candi Ceto.
Jika berniat mengunjungi daerah di sini, jangan lupa bawa jaket yang cukup tebal karena udaranya sangat dingin dan juga kamera untuk mengabadikan keindahannya.

Silakan menikmati beberapa foto yang sempat aku jepret di sana😀

Image

Image

Image

Image

Image

Tidak boleh dimasuki sembarang orang

Image

Image

Taken by Anggoro Tri Wicaksono

Tulus

Tulus

(photo last.fm)

 

Merdu Untukmu

 

Ku ingin bernyanyi, melekat di telingamu

Bingkai seisi semesta, semua yang bisa bercerita

Ku ingin bernyanyi melekat di dalam hatimu

Bingkai beragam nada agar semua merdu untukmu

 

Ku ingin bernyanyi, melekat di dalam hatimu

Bingkai seisi semesta, semua yang bisa bercerita

Ku ingin bernyanyi melekat di dalam hatimu

Bingkai beragam nada agar semua merdu untukmu

 

 

Lagu yang judulnya Merdu Untukmu ini dinyanyikan oleh Tulus. Penyanyi dengan nama lengkap Muhamad Tulus ini berasal dari Bandung, telah merilis Self-Titled debut album pada akhir tahun 2011. Lagu-lagu yang dinyanyikan Tulus terasa ringan dan easy listening, dengan sentuhan jazz.

Di awali dengan Merdu Untukmu (intro) hadir dengan suara yang terasa jauh kemudian perlahan mendekat, dengan kata yang dirangkai indah. Intro yang sempurna !

Tidak melulu tentang cinta, lagu Diorama disajikan dengan konsep studio live, tersirat tentang kehidupan sosial masyarakat urban. Begitu juga dengan lagu Tuan Nona Kesepian.

Sewindu dan Kisah Sebentar sebenarnya mempunyai lirik yang sedih tapi Tulus mengemasnya dengan musik yang ngebeat. Sangat direkomendasikan untuk didengarkan😀

Yang menjadi lagu andalan salah satunya adalah Teman Hidup, musik yang lembut dengan lirik yang romantis. Siapa yang tidak akan jatuh cinta dengan lagu ini, termasuk aku😀

Lagu ini tidak hanya menceritakan cinta antara pria dan wanita tapi juga cinta kepada keluarga dan lingkungan. Video klipnya dibuat simpel tapi mengena. Silakan melihat videoklip Teman Hidup disini

 

Seperti namanya, Tulus bernyanyi dengan tulus dan sepenuh hati. Suara yang khas dengan lagu-lagu yang berirama pop jazz membawa warna bagi musik Indonesia.

Semoga Tulus selalu sukses dengan karier bermusiknya😀

 

 

 

 

Borobudur Sunrise

Jam 03.15 alarm di hpku berbunyi dengan riangnya.
Yuup, waktunya berburu sunrise di Borobuduur!

Kok bisa?
Ceritanya nii, bberapa hari yang lalu ada temen yang nawarin hunting sunrise di Candi Borobudur. Kesempatan langka tidak akan datang 2x bukaan? hihi .. maka dari itu, dibela2in jam segitu udah bangun pagi, dibela2in nginep di rumah temen jugaa.

Bergegas aku ke kamar mandi, ga mandi sih, cuci muka+gosok gigi aja cukup. Dingiiiinn!
Setelah selesei prepare, aku pamitan sm temen *makasiih butoet, maaf merepotkaan😀

Jam 03.45 jalanan di kota Magelang masih sepi sekali, segera kupacu motorku ke kantor, err .. ex kantorku dulu tepatnya😛
Janjian ketemu samaa tim mBolang (mas Eko, Macan sama Bemby) disitu. Sampai sana ternyata udah pada ngumpul, weew .. telat niih.
Lets goo jalaaan!

Kita memilih lewat Mungkid saja, dengan pertimbangan lebih dekat kalo mau ke Borobudur dari kota Magelang.
Jalan masih sangat sepi, cuma butuh waktu 15menit aja sampai sana.
Segera nyari masjid Al Ikhlas yg jadi meeting point sama mas Yudhi, temen yg ngajak hunting. Tak berapa lama nunggu, mas Yudhi dateng, segera kita subuhan bareng2.

Selesei subuhan, dateng temen2 lain yang ikut hunting juga. Ternyata eh ternyata ada pak Yovie, temen satu divisi dulu, hahaa .. reunian deh.
Tapii .. titik2 air apa inii? ealaah,, ternyata gerimiis! waduuh .. gimana sunrisenya kalo hujan begini😦
Kita cuma bisa lihat2an sambil berdoa masing2 dalam hati.

Segera kita masuk ke kompleks Candi Borobudur lewat Hotel Manohara, hotel yang jadi pintu masuk buat hunting sunrise.
Setelah parkir motor, kita segera naik ke candi Borobudur. Gelap+sepi+gerimis jadi kombinasi yang pas untuk membuat kaki kesandung. hehe
Nyampe ujung tangga candi la kok udah keliatan semburat merah di ufuk timur. Wee .. hrs dipercepat nih langkah naek tangga.
Ternyata lumayan terjal jg naek dr sisi samping, ditambah keburu2 bikin napas ngos2an. Lumayan buat olahraga bagi saya yang bisa dibilang ga kecil ini. xixixi

Sampai di atas candi la kok banyak suara2, merindiing ..
Ternyataa udah buanyak wisatawan yang on the spot, wealaah😀
Bingung nyari spot, karena spot oke udah pada ditempetin, akirnya nemu satu agak minggir. Ya oke laah, show must go on ..
Berhubung tripod ngumpet entah kemana, huntingnya metode handheld aja *siap2 tahan nafas*
Mas Eko, Macan sama Bemby udah pada asik nyari angle dan moment. Yang sekarang ramai terdengar hanyalah suara shutter dan autofokus😀
Aku juga begitu, pokoknya view and shoot😛

Semburat merah tipis bercampur dengan kuningnya sinar mentari, ditambah dgn layer kabut, suasananya begitu syahdu. Subhanallah ..
Semesta juga mendukung, hujan sudah menghentikan titik gerimisnya pas kita nyampe di atas.
Setiap detik naiknya mentari terasa begitu indah .. nice moment

Setelah mentari udah bener2 naik kita putuskan turun, tetep sambil pencet shutter sana sini, lumayan buat stock foto. hehehe

Beberapa foto yang aku shot kemarin. Please enjoy🙂

semburat merah

stupa

heningalley

merekah